Social Icons

Pages

Sunday, November 24, 2013

Sinopsis I HEAR YOUR VOICE Episode 2 - 1

Seong bin masuk ke dalam kelas yang masih kosong sambil bernyanyi-nyanyi. Terus dia duduk sambil nge-kutek kukunya. Tiba-tiba terdengar suara jeritan.
“Suara apa itu?” Seong-bin yang kaget segera berdiri dan berjalan menuju jendela yang ada di belakangnya. Dia melihat ke bawah, terlihat sesosok siswi yang tergeletak. Siswa dan siswi lain banyak yang mendekat juga.
“Tidak mungkin. Bukankah itu Ssang-ko?” Seong-bin terperanjat.
Ada satu siswa yang berada di bawah melihat Seong-bin, “Lihat.. itu Seong-bin! Pasti dia yang mendorong Ssang-ko!”
“Apa?” kata Seong-bin.
“Cepat, telpon polisi.” Ujar siswa itu lagi pada temannya.
Seong-bin bingung… “Apa yang terjadi..?”
~~~
 
Hakim Kim dan dua orang lainnya sedang menyeleksi calon pengacara yang akan lolos wawancara. Salah seorang hakim bilang, persaingan untuk pembela umum ini sama saja seperti audisi bintang K-pop.
Hakim satu lagi menunjukkan CV HYe-sung pada Hakim Kim.
“Oh, pengacara yang pernah dikeluarkan dari sekolah karena kecelakaan kembang api itu.”
Dua hakim berdebat soal Hye-sung.
Hakim 1: “walaupun dia punya banyak pengalaman dalam membela, tapi dia mempunyai reputasi yang buruk. Panggilannya adalah 20 detik. Dia memberikan pembelaan untuk kliennya hanya dalam 20 detik.” (diperlihatkan saat Hye-sung melakukan pembelaan dengan ogah-ogahan seperti di episode 1)
Hakim 2: “Tapi, mendengarkan kondisinya saat itu, itu pengalaman yang sangat bagus. Ceritanya berurutan dan dia menunjukkan keberaniannya. Saya melihat masa depan untuknya.” (diperlihatkan lagi saat Hye-sung remaja menjadi saksi di persidangan ayah Soo-ha)
“Bagaimana pendapat anda?” tanya Hakim 2 pada Hakim Kim.
Hakim Kim menjawab, “Saya tidak yakin.. dia terlihat seperti pengacara yang baik juga pengacara yang buruk. Sangat sulit untuk memutuskan.”
Episode 2
Bad Girl, Good Girl
Satu bulan kemudian..
Hye-sung melihat pengumuman di Koran, dia dan Kwan-woo yang berhasil menjadi pembela umum. Dia tersenyum bahagia.
Kemudian dia melihat ada spanduk di depan restoran ayam milik ibunya yang memasang fotonya dan bertuliskan, “Hanya putri dari Hye-Sung Chicken House yang memenangkan kompetisi 21:1 dan menjadi seorana Pembela Umum.”
Hye-sung terlihat kesal dan berlari mencabuti brosur yang memasang fotonya. (Jadi ada brosur juga, dijadiin promosi warung makan ibunya.)
“Ibuku selalu membuatku gila.” Kata Hye-sung dengan kesal.
Ibu datang dan memukul kepala Hye-sung, seperti biasa. Dan seperti biasa Hye-sung bilang, “Aku sudah pernah bilang untuk tidak memukul kepalaku.”
Hye-sung protes ibunya memakai foto dan namanya untuk dijadikan promosi. Tapi ibu bilang bagus, pengacara yang dibayar Negara itu bagus. Ibu sepertinya bangga.
 
Ibu menyuruh Hye-sung mengikutinya, untuk…..menempelkan brosur di tempat lain.
Ibu bersenandung, “Lihatlah putriku. Senyumnya sangat manis.
Hye-sung mengira ibu bersenandung seperti itu karena mengharapkan Hye-sung akan membayar hutangnya. Tapi ibu bilang bukan karena itu, ini karena ibu bangga pada Hye-sung yang sudah menjadi Pembela Umum.
“Benarkah? Lalu tidak apa-apa jika aku tidak membayar uangnya?” tanya Hye-sung kesenengan. Yang dijawab ibu dengan pukulan dikepala, hehehe…
“Hey, kamu itu sekarang sudah jadi pembela umum. Apakah kamu tidak berpikir untuk lebih dewasa sedikit?” tanya ibu kesal.
“Mengapa aku ingin menjadi pembela umum? Karena itu meudahkan hidupku..”kata Hye-sung.
“Apa?”
“Aku mendapatkan gaji setiap bulan. Pemerintah menjadwalkan kasus untuk aku kerjakan. Dan semua yang kulakukan adalah menerima sumpah. Sedikit sekali yang aku kerjakan. Jadi, aku akan bekerja hanya untuk beberapa tahun, kemudian menikah.” Ujar Hye-sung.
Ibu mendecak dan akan memukul Hye-sung lagi, “Jika ibu melihatmu malas bekerja, itu akan jadi pertama kalinya seorang pengacara Korea yang dipukul oleh ibunya. Mengerti?” ancam ibu.
Lalu ibu menanyakan apakah Hye-sung sudah menemukan tempat tinggal. Hye-sung bilang sudah, sebuah apartemen atap dengan dua kamar dan kamar mandi. Tapi Yeonjo sangat jauh kata ibu, dan ibu menanyakan apakah Hye-sung punya teman yang jadi pembela umum juga di kantor kejaksaan Yeonjo. Hye-sung bilang dia tidak butuh teman. Dan..Hye-sung digeplak lagi sama ibunya.. 
~~~
Kantor Kejaksaan Yeonjo
Seong-bin sedang di interogasi oleh seorang jaksa.
“Katakan, kamu kan yang mendorongnya!” bentak si jaksa. “Jika kamu mau mengaku, mengakulah padaku. Disini akulah yang paling baik. Jika kamu bersama petugas yang lain, kamu akan lebih dibentak.” Si jaksa minum, lalu bertanya lagi, “kamu…yang mendorongnya kan?”
Seong-bin yang dari tadi manggut-manggut, terdiam lalu menggeleng. Si seong-bin ini gayanya slengean.
“Kamu merasa cemburu karena Moon Dong-hee telah terpilih oleh agen entertainment. Itulah mengapa kamu menindasnya dan mengatakan dia melakukan operasi plastic. Tapi itu tidak cukup, dan kamu membunuhnya! Orang-orang melihatmu. Itulah faktanya!” bentak si jaksa lagi.
Seong-bin mendesah, dan marah, “Aku bahkan tidak tahu dia berada di kelas musik. Walaupun aku berandal, bukan berarti aku seperti itu.”
Si jaksa bentak lagi, “Menurutmu berakting tidak bersalah akan berhasil? Lihat! Semua temanmu menulis pernyataan.”
Do-yeon, ya disana ada Do-yeon yang menjadi Jaksa, menghampiri mereka dan mengambil alih. Do-yeon melihat kukunya Seon-bin, dan terlihat tertarik, Seong-bin menawarkan untuk membuatkannya karena dia membuat sendiri.
Lalu datang lagi petugas kejaksaan yang membawa makanan siang, sandwich.
Do-yeon menginterogasi sambil memakan sandwich, “Jadi, kamu tidak tahu Moon Dong-hee ada di kelas musik?”
Seong-bin: “Itu lantai empat, mungkinkah aku mendorongnya tanpa alasan untuk membunuhnya?”
Do-yeon: “Dalam kasus ini, terlihat sebagai usaha pembunuhan, tapi kamu tidak terlihat seperti pembunuh.”
Do-yeon melanjutkan setelah menyuruh Seong-bin minum, “Jadi kamu tidak pernah membuatnya sendirian sebelumnya kan?”
Seong-bin: “Iya, tentu saja tidak pernah. Hal paling kasar yang aku lakukan adalah memanggilnya Ssang-ko. Sejak semua orang memanggilnya seperti itu, aku memanggilnya hanya untuk candaan saja.”
Do-yeon: “Saat kamu memanggilnya double (eyelid)-nose, semua orang tertawa?”
Seong-bin: “Tentu saja mereka tertawa. Dari panggilannya saja itu sudah jelas. Karena orang itu melakukan operasi kelopak mata ganda dan hidung. ‘Ssang-ko’.”
Do-yeon tertawa, “Aku setuju, itu sangat jelas. Apakah Moon Dong-hee juga tertawa setelah kamu memanggilnya Ssang-ko? Kamu bilang itu cuma lelucon. Lelucon itu bukan untuk orang yang mengatakannya, tapi untuk orang yang dimaksud, benarkan? Jika dia tidak menerimanya, itu bukan lelucon tapi terror.”
Seong-bin: “terror?” dia tadinya cerita sambil ceria aja, setelah itu jadi terdiam, agak ketakutan.
Do-yeon ini sepertinya pandai bermain kata-kata, hingga membuat tersangka tak berkutik.
Do-yeon berubah menjadi lebih serius dan meletakkan makanannya, “Aku mengatakannya agar kamu tertawa (terror-lelucon), tapi kamu tidak tertawa. Kenapa? Oh.. itu pasti terror. Seharusnya aku tidak melakukan lelucon itu. benarkan?” Do-yeon tersenyum sinis.
Seong-bin gemetaran.
Do-yeon berkata pada timnya,”Bisakah kita mulai? Go Seong-bin, kamu telah diinvestigasi untuk percobaan pembunuhan Moon Dong-hee. Kamu tahu itu kan? Kamu punya hak untuk diam. Dan kamu dapat meminta bantuan pengacara.”
~~~
 
Di ruang kelas, teman-teman Seong-bin membaca artikel tentangnya yang menjadi tersangka di internet dan juga surat kabar.
“Hey, sekarang bukan saatnya untuk belajar! Kamu pasti terkejut kalau melihat berita ini!” kata teman Joon-gi pada Soo-ha. “Kamu tau kan Go Seong-bin? Si cewe rambut pirang yang suka sama kamu dan ngikutin kamu terus itu..”
“Aku gak tau, aku gak peduli.” Kata Soo-ha masih sambil belajar.
Si teman Joon-gi itu kesal, “Nih liat, baru ngomong.” Sambil nunjukin koran yang tadi dia baca.
Soo-ha ngelirik, dan matanya tertuju pada berita di sebelahnya, berita tentang Hye-sung yang jadi pembela umum. Soo-ha langsung ngambil korannya dan baca dengan terkejut, “Tidak mungkin.” Dia membaca nama Jang Hye-sung disitu, wanita yang selama ini  dia cari, wanita yang selama 10 tahun ini dia rindukan. Soo-ha tersenyum bahagia.
Soo-ha memeluk temannya dengan bahagia sambil mengucapkan terima kasih. Kemudian Soo-ha berlari keluar sekolah.
Joon-gi heran, apakah Soo-ha berterima kasih karena Seong-bin terkena masalah. Temannya juga heran, hal baik apa yang dia lakukan?
 
Soo-ha terus berlari, sampai-sampai dia hampir tertabrak motor. Soo-ha dimarahi, dia meminta maap, mencium helm si pengendara motor.
Soo-ha kegirangan, dia nunggu lampu merah pejalan kaki sambil menggerak-gerakkan kaki, kayak lari ditempat gitu.
Soo-ha sampai di depan gedung kejaksaan. Dia melihat lagi foto Hye-sung di koran, “Dia tidak banyak berubah.”
Soo-ha tersenyum lagi menatap kantor kejaksaan.
~~~
 
Di penjara, si pembunuh, Joon-guk sedang rebahan sambil menulis. Temannya bertanya apakah dia sudah mendapatkan pekerjaan setelah keluar dari penjara minggu depan.
Joon-guk menjawab, pendeta Ah-leum akan memberikannya pekerjaan. Joon-guk tersenyum.
Temannya bilang bagus, jalan menuju sukses memang tertulis di Al-kitab. Si teman bertanya apakah dia juga harus mempelajari Al-kitab, dan dia mengambil dan membuka-buka Al-kitab. Dia menemukan koran yang ada berita Hye-sung nya. Dia menanyakan pada Joon-guk, “Apa ini? Apakah seseorang yang kamu kenal?”
Joon-guk: “Ya, seseorang yang aku berhutang padanya.”
Joon-guk tersenyum sinis. Senyumnya beda dengan yang pertama tadi.
~~~
 
Hye-sung terbangun dari mimpi buruknya. Bermimpi tentang si pembunuh dihari pertamanya bekerja.
Hye-sung mandi dan berganti-ganti pakaian untuk dipakai bekerja. Setelah dandan-dandan cantik, dia pun keluar rumah. Dan, omo… di dalam rumahnya berantakan bangettttt…
~~~
 
Di jalan, Hye-sung di tegur Kwan-woo, “Aku daritadi memanggilmu, tapi kamu terus aja jalan. Aku mengikutimu dari bus.”
Hye-sung jalan pergi, tapi di tahan Kwan-woo.
Hye-sung, sambil menepis tangan Kwan-woo: “Kamu bukan tipeku.”
Kwan-woo, sambil mengambil sesuatu dari tasnya: “Ini terjatuh di dalam bus.” Kwan-woo menyodorkan dompet Hye-sung. Doeng, Hye-sung ke-GR-an, hohoho..
Karena banyak orang yang melihat kea rah mereka, Hye-sung pura-pura, “Ini bukan punyaku. Tapi aku akan menemukan pemiliknya. Oke?” dan Hye-sung pun jalan pergi.
Kwan-woo mengejarnya, “Kamu ngomong apa sih? KTP yang ada didalamnya kan punya kamu… ah,, kamu pura-pura seperti itu karena malu..”
Kwan-woo terus mengikuti Hye-sung, “Apakah kamu tidak mengingatku? Namaku Cha Kwan-woo. Kita pernah bertemu sebelumnya.”
Dengan cueknya Hye-sung bilang dia tidak ingat.
Kwan-woo masih tak gentar, “Kita bertemu saat wawancara. Kamu bahkan menarik kerah bajuku untuk mendapatkan prediksi pertanyaan. Kamu tidak ingat?”
Hye-sung juga masih cuek, “Aku tidak ingat.”
Kwan-woo: “Sebelumnya aku melihatmu sekilas jadi aku belum menyadarinya, tapi sekarang aku melihatmu, kamu sangat cantik.”
Orang-orang yang sama-sama menunggu lift, menoleh serentak ke arah mereka.
Dengan suara kerasnya, Kwan-soo mengatakan Hye-sung mirip Angelina Jolie, kontan orang-orang nengok lagi dan ketawa. (Annoying banget dah si Kwan-woo ini, haha.. tapi lucu..)
Hye-sung menyuruh Kwan-woo memelankan suaranya. “Kenapa? Itu pujian.” Oran-orang pada ketawa lagi, dan sekarang di dalam lift.
“Itu berarti kamu cantik. Ngomong-ngomong, Hye-sung…atau aku panggil Pengacara Jang? Oh, pengacara Jjang! Bagaimana?”
Hye-sung daritadi muter-muter bola matanya, seakan ngomong, haduuhh ni orang apaan sih, malu-maluin gw aja deh, hehe..
Kwan-woo bilang alasan dia melamar ke kantor kejaksaan Yeonjo adalah karena pengacara  Shin Sang-duk. Kwan-woo merasa pasti Hye-sung juga mempunyai alasan yang sama.
Hye-sung semakin kesal. Dia berteriak pada Kwan-woo menyangkal semua omongan Kwan-woo termasuk Pengacara Shin bukan alasan dia berada disana.
Tiba-tiba ada gigi palsu yang jatuh, ya, itu gigi palsunya Pengacara Shin yang syok mendengar ucapan Hye-sung.
Kwan-woo langsung meminta maap, tapi Hye-sung tidak.
Pengacara Shin memperkenalkan petugas TU, Choi Yoo-chang. Pengacara Shin mengajak mereka minum kopi bersama sebagai penyambutan pegawai baru.
Petugah Choi memperingatkan Hye-sung kalau Pengacara Shin itu pendendam, jadi Hye-sung harus cepa-cepat minta maap.
Hye-sung tidak terima, memangnya apa yang akan Pengacara Shin lakukan padanya kalau dia tidak meminta maap.
Dan jawabannya… Hye-sung mendapatkan kopi yang berbeda. Yang lain gelasnya gede dan ada merknya, punya Hye-sung cuma gelas kopi biasa yang kecil. Trus saat Hye-sung membasahi jarinya untuk membuka lembaran berkas yang tebal, Pengacara Shin melihatnya, dia mengambil sesuatu, alat yang bisa memudahkan membuka lembaran berkas tanpa harus membasahi tangan dan memberikannya pada Kwan-woo. Ooww, Pengacara Shin ngajak perang dingin.
~~~
 
Kwan-woo melihat berkas kasus Jo Yeong-sook. “Dituduh merusak fasilitas umum dan mengncam petugas dengan senjata, dan dia tuli.”
Jo Yeong-sook menjadi tersangka pertama yang akan dibela Kwan-woo.
Pengacara Shin melihat Kwan-woo bisa menggunakan bahasa isyarat dan juga bisa membaca huruf braile. Ini membuat Pengacara Shin senang dan memperlihatkan muka aneh pada Hye-sung. Kayak gini nih… beneran perang dingin ini mah.. hehe..
 
Tersangka pertama untuk Hye-sung juga datang, dia Go Seong-bin.
~~~
 
Soo-ha memasukan buku-bukunya ke dalam loker. Trus merapikan rambutnya dan dia latihan bicara di depan cermin. Kata-kata yang akan dia ucapkan pada Hye-sung nanti. Lucu deh, Joon-gi dan temannya aja yang ngeliatnya aneh dan menyebut Soo-ha sudah gila… Soo-ha juga aneh, senyum-senyum sendiri, meliuk-liukan badan, gak seperti biasanya yang cool…
~~~
 
Seong-bin mengatakan pada Hye-sung kalau bukan dia pelakunya.
Hye-sung berkata setelah melihat gaya berpakaian Seong-bin: “Aku sudah mendengarnya dari orang-orang. Tapi lihatlah, terlalu banyak bukti dan kesaksian. Aku juga mendengar kamu berbohong pada jaksa dengan bersikap tak bersalah. Mungkin itulah mengaoa kamu dituduh melakukan percobaan pembunuhan.”
“Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa jadi percobaan pembunuhan.” Seong-bin marah.
“Teman yang tidak kamu sukai duduk sendirian di jendela. Kamu mendekatinya dan mendorongnya. Tapi dia tidak meninggal, dia koma. Jika dia meninggal, berarti kamu adalah pembunuh. Karena dia masih hidup, maka hanya percobaan pembunuhan.” Hye-sung menjelaskan.
Seong-bin kesal, “Ini membuatku gila. Ahjumma….oh tidak, unni.. aku mengakui bahwa aku menindas orang disana sini, tapi aku juga punya batas. Aku tidak pernah berlaku sejauh itu. percobaan pembunuhan? Aku mengatakan yang sesungguhnya, itu bukan aku!”
Pengacara Shin terus memperhatikan mereka.
Hye-sung: “Disana banyak orang yang melihatmu.”
Seong-bin: “Mereka berbohong! Mereka membalas karena aku selalu membawa masalah pada mereka.” Seong-bin terbawa emosi.
Hye-sung menutup berkasnya dengan kasar, “Aku membelamu tanpa meminta imbalan. Dengan sikapmu yang seperti ini, aku tidak bisa membelamu. Apa kamu mau datang ke pengadilan tanpa pengacara?”
Seong-bin terlihat putus asa. Pengacara Shin dan petugas Choi memperhatikan mereka.
Kemudian Kwan-woo keluar ruangan bersama tersangkanya, mengalihkan perhatian semua orang. Jo Yeong-sook berkata dalam bahasa isyarat, “Bagaimana jika hakim tidak percaya pada saya sedikitpun?”
Kwan-woo: “Jangan khawatir. Ketulusan akan menang di pengadilan. Aku akan menang untukmu.”
Ahjuma Yeong-sook mengucapkan terima kasih pada Kwan-woo.
Hye-sung kembali berkata pada Seong-bin, “Dengan bukti sebanyak ini, cukup untuk membuatmu dinyatakan bersalah. Jika kamu mengatakan bahwa kamu tidak bersalah dan kamu ketahuan, hukumanmu akan bertambah. Cukup mengakuinya dan menyadari kesalahanmu, aku akan memberikan pernyataan terhadapa kasusmu sebagai pelanggaran undang-undang. Mungkin kamu tidak akan masuk ke penjara. Jadi, mana yang kamu pilih?”
Seong-bin sudah akan menangis, “Aku sudah bilang, benar-benar bukan aku yang mendorongnya! Aku bahkan tidak tahu dia ada di kelas musik. Aku bukan penjahat! Benar-benar bukan!”
Hye-sung: “Kamu akan terus mengatakan itu? di saat teman mu memakan pizza dan  bersenang-senang, kamu sungguh-sungguh ingin masuk penjara dan makan nasi dan kacang sendirian?”
Kwan-woo, Pengacara Shin dan Petugas Choi merasa iba pada Seong-bin yang dikasari oleh Hye-sung. Kwan-woo akan memberikan pendapatnya, tetapi tidak diterima dengan baik oleh Hye-sung.
Hye-sung bertanya kembali pada Seong-bin, “Tidak bersalah atau bersalah? Aku tidak bertanggung jawab atas akibat dari pilihanmu.”
Seong-bin menangis kesal dan berteriak, “Baik. Aku mengakuinya! Puas?” Seong-bin menangis tertunduk di kursi.
Hye-sung? Masih dengan sikap cueknya. 
----------------------------------------------------------------------------------------------

Sinopsis I HEAR YOUR VOICE Episode 1 - 2


 
Hye-sung jalan berputar di dekat lampu jalan, sambil bawa kembang api. Ternyata dia nungguin Do-yeon, mencegat tepatnya. Do-yeon ketakutan, apalagi liat Hye-sung bawa kembang api. Hye-sung membuat Do-yeon mengaku kalau dia berbohong. Ketika Hye-sung mencoba mengajak Do-yeon untuk mengaku berbohong pada ayah dan ibunya, mereka mendengar suara. Lalu mereka berlari kea rah sumber suara. Mereka melihat seseorang membunuh orang yang ada di dalam mobil. Ya, itu mobil Soo-ha kecil dan ayahnya.
Saat pembunuh itu akan memukul Soo-ha kecil, Hye-sung mengeluarkan hp nya dan akan memotretnya, trs hp nya bunyi “smile” gt, si pembunuh mendengarnya, dan melihatnya. Do-yeon segera berlari, dan menyuruh Hye-sung segera lari. Hye-sung terdiam sesaat, kemudian akan berlari, tapi berhenti lagi karena melihat Soo-ha yang masih hidup. Pembunuh semakin mendekat, Hye-sung pun berlari mengikuti Do-yeon. Si pembunuh mengejar mereka.
Hye-sung dan Do-yeon sembunyi di semak-semak. Si pembunuh memukul-mukul semak-semak itu, hampir ketahuan. Si pembunuh menjauh, eh Do-yeon cegukan. Balik lagi deh si pembunuh itu. terdengar suara sirine polisi. Si pembunuh kesal.
“Kalau bukan karena kalian, aku harusnya bisa menyelesaikan ini dengan bersih. Kalian, bisa mendengarku kan? Karena kalian dekat, harusnya kalian bisa mendengarku. Kalian melihat semuanya kan? Kalian tau mengapa aku membunuh pria itu? itu karena dia membuat masalah dengan orang yang salah. Dia mengatakan semua yang ingin dia katakan dan itulah mengapa aku membunuhnya. Jika kalian ingin hidup, tutup mulut kalian. Maka tidak akan terjadi apapun. Jika tidak ada saksi, itu hanya akan menjadi kecelakaan mobil. Jika kalian pergi ke polisi dan mengatakan kalian melihatku dan itu pembunuhan, kalian akan mengalami hal sama dengan pria itu. jika kalian memberitahu orang tua kalian, aku akan melakukan hal yang sama pada mereka. Jadi, agar aku tidak membunuhmu, kalian harus membantuku. Oke? Seperti saat ini, tetaplah sembunyi. Jangan pernah muncul dan jangan katakan apapun. Atau, aku akan membunuhmu dan orang yang kalian berita tahu. Jadi, tetap sembunyi selama hidup kalian. Jadi aku tidak akan mendengar atau melihat apapun. Tetap sembunyi!”
Si pembunuh pun pergi…
 ~~~
Polisi datang ke tempat kejadian, ayah Soo-ha meninggal dan Soo-ha mengalami luka berat di kepala dan dirawat di RS.
Hye-sung mendengarkan berita di televisi:
“Polisi melakukan penyelidikan berdasarkan keterangan dari pengemudi truk yang melihat bahwa Mr. Park melajukan mobilnya menerobos lampu merah.”
Di dekat Hye-sung ada ibu-ibu yang bergosip tentang kecelakaan itu. Mereka bilang itu bukan kecelakaan biasa tapi kasus pembunuhan. Anaknya melihat ayahnya dibunuh. Kalau tidak ada saksi, kasus itu tetap akan jadi kecelakaan biasa.
Hye-sung teringat anak kecil itu, dia merasa bimbang. Ancaman si pembunuh masih memenuhi kepalanya. Hye-sung menutupi wajahnya dengan topi dan berjalan pergi.
Kemudian dia bertemu dengan Do-yeon yang celingak celinguk di balik pohon. Dia kaget. Do-yeon bilang dia akan menjadi saksi. Hye-sung juga. Do-yeon menuduh Hye-sung berbohong. Setelah berdebat, akhirnya mereka memutuskan untuk sama-sama menjadi saksi di persidangan.
Dirumah, Hye-sung masih kepikiran, ancaman si pembunuh masih terngiang-ngiang. Hye-sung bertanya sama ibunya kenapa ibunya berada di pihaknya, apakah karena dia adalah putrinya. Ibu memukul kepala Hye-sung.
 ~~~
Esok harinya, Hye-sung berdiri di depan gedung pengadilan, dia teringat perkataan ibunya semalam, “Ibu berada di pihakmu bukan karena kamu adalah putri ibu. Itu karena kamu menangis. Kamu menangis seperti ayahmu.” Mungkin seperti yang ibu bilang sebelumnya di RS, Hye-sung seperti ayahnya, yang tidak akan pernah menangis walau apapun terjadi, kecuali terjadi ketidakadilan pada dirinya sendiri.
Hakim memasuki ruang sidang, para hadirin berdiri. Terlihat si pembunuh di kursi tersangka, dan Soo-ha di kursi hadirin dengan perban dikepala dan pipinya. Mereka saling menatap, si pembunuh menatap mengancam, Soo-ha menatap penuh kebencian.
Hye-sung bertemu dengan Do-yeon di dalam. Mereka menuju ruang persidangan, dan akan memasukinya. Hye-sung di pintu kanan, Do-yeon di pintu kiri. Mereka sama-sama ragu untuk membuka pintu masuk, ancaman si pembunuh kembali terngiang di kepala mereka. Kemudian mereka memutuskan untuk masuk bersama-sama dalam hitungan ke 3.
1… 2…. 3….
Flashback end..
Hakim Kim kecewa Hye-sung menghentikan ceritanya. Hakim Kim meminta Hye-sung untuk melanjutkan ceritanya. Hye-sung bilang jika dia menceritakannya, dia tidak berpikir ini akan membantunya dalam wawancara.
“Satu-satunya yang membuat saya yakin adalah bahwa saya masih merasa menyesal atas keputusan itu sampai sekarang. Dan juga saya tidak akan mau memilih keputusan seperti itu lagi. Dan itulah alasan saya berada disini.”
 ~~~
Soo-ha berjalan pulang dari sekolah. Joon-gi dan temannya ngerumpi sambil ngeliatin Soo-ha.
“Dia bakalan masuk ke universitas mana ya?” tanya Joon-gi.
“Para guru selalu memujinya. Apakah kamu pikir dia bakal masuk universitas? Dia pinter banget.” Teman Joon-gi menimpali. “Dia tinggi, dan pintar berkelahi.”
Joon-gi tersinggung “sudah berapa kali ku bilang, itu cuma keberuntungan aja.”
Soo-ha berjalan di trotoar, dia melihat seseorang yang dikenalnya di sebrang jalan, Hye-sung. Soo-ha berlari mengejarnya, dia menerobos lampu merah untuk pejalan kai, hampir ketabrak. Dia terus berlari. Hye-sung mulai gak keliatan karena banyak orang. Dan Soo-ha pun kehilangan jejaknya.
Soo-ha berada di tempat latihan beladiri, dia menulis sesuatu di bukunya, kemudian menyandarkan kepalanya, dan flashback lagi..
 ~~~
Dokter memeriksa kondisi Soo-ha kecil. Soo-ha tidak merasa mual ataupun pusing, tapi dia masih belum bisa bicara. Jadi, Soo-ha mengalami syok sehingga dia tidak bisa bicara.
Ada dua detektif disana.
Detektif 1: “Karena dia tidak bisa bicara, kita harus menyerah untuk mendengar penjelasannya atas apa yang terjadi. Investigasi yang berjalan dan keterangan saksi sudah cocok.”
Detektif 2: “Saya rasa itu sudah cukup untuk memutuskan bahwa ayah anak ini mengantuk saat mengendara.”
Detektif 1: “Kalau begitu saya pikir kasus ini  sudah berhasil diselesaikan.”
Soo-ha yang mendengar pembicaraan kedua detektif itu, mengambil kertas dan crayon menuliskan bahwa sopir truk itu membunuh ayahnya, dan menunjukkannya pada detektif.
Detektif 1 bilang sulit untuk membuktikannya jika hanya berdasarkan perkataan Soo-ha yang kepala terluka dan tidak bisa bicara tanpa adanya saksi, apalagi jenazah ayahnya sudah dikremasi (tidak bisa dilakukan otopsi).
 ~~~
Di ruang persidangan. Si pembunuh dengan tegas menyebutkan bahwa itu adalah kecelakaan, bukan pembunuhan. Jaksa penuntut mengatakan bahwa kesaksian dari anaknya bahwa itu adalah pembunuhan. Pengacara si pembunuh membela, bahwa Soo-ha terlalu kecil untuk menyadari apa yang terjadi, dan juga mengalami syok, jadi tidak bisa dipercaya begitu saja. Hakim pun manggut-manggut.
Si pembunuh dengan muka tak bersalahnya menatap Soo-ha dan berkata dalam hati. Soo-ha yang mendengarnya, menuliskan dalam kertas dan meminta mereka membacanya. “Semua orang bodoh disini berasa di pihakku.” Si pembunuh terperanjat. Soo-ha juga bilang bahwa dia bisa membaca pikiran orang lain. Dan membuat pengacara itu semakin meyakinkan bahwa Soo-ha berbohong dan perkataannya tidak bisa dijadikan bukti.
Hakim Seo menanyakan apakah ada bukti lain atau saksi kepada Jaksa penuntut.
Si pembunuh berkata lagi dalam hatinya sambil menatap Soo-ha, “Aku tidak tahu bagaimana anak kecil sepertimu membaca pikiranku, tapi terima kasih. Aku selamat karenamu. Jangan berharap akan ada saksi lain, karena aku mengatakan pada mereka aku akan membunuhnya jika mereka datang.”
Soo-ha menangis, dan pada saat itu Hye-sung masuk ke ruang sidang, Do-yeon tidak.
Semua orang memperhatikannya dan hakim pun bertanya untuk kedatangannya.
“Aku….” Hye-sung terdiam melihat si pembunuh menatapnya. Kemudian dia melihat kearah Soo-ha, dan Hye-sung memantapkan hatinya. “Aku saksi untuk kasus pembunuhan ini. Namaku Jung Hye-sung.”
Semua orang menatapnya terkejut. Hye-sung melanjutkan, “Saat kecelakaan terjadi aku ada disana. Dan aku melihat dengan jelas. Pria itu, memakai tongkat besi memukul kepala pengemudi. Lalu dia menyuruh kamu untuk menutup mulut dan pengemudi itu meninggal karena dia terlalu banyak bicara.” Hye-sung menunjuk si pembunuh.
Hakim Seo bertanya pada Soo-ha apakah dia adalah saksinya, dijawab dengan anggukan kepala Soo-ha.
Hakim bertanya pada si pembunuh apakah dia melihat Hye-sung, yang dijawab “Tidak. Ini adalah pertama kalinya saya melihatnya.”
Pengacara si pembunuh membela, bahwa Hye-sung tidak ada pada saat penyelidikan, dia tidak punya hak untuk menjadi saksi. Pengacara dan jaksa berdebat masalah itu. Hakim pembantu pun mengatakan sulit untuk menjadikannya saksi untuk saat ini.
Si pembunuh tersenyum penuh kemenangan. Tapi.. Hye-sung menunjukkan hap nya dan berkata bahwa dia memiliki fotonya, “Aku mengambil foto pada saat pria itu memukul kaca mobil dengan tongkat. Apakah ini juga tidak bisa dijadikan bukti?” tanya Hye-sung.
Jaksa kemudian melihat hp Hye-sung. Hye-sung yang ketakutan dengan ancaman si pembunuh, tangannya gemetaran digenggam oleh Soo-ha.
Hye-sung dipersilahkan maju ke depan. Si pembunuh berteriak marah, dia menghampiri Hye-sung, mencekiknya, “Aku katakan kalau aku akan membunuhmu! Aku akan membunuhmu. Aku akan membunuh orang yang kamu beritahu!”
Si pembunuh ditahan oleh beberapa orang dan hakim menyuruh membawanya keluar ruang persidangan. Sambil ditarik keluar si pembunuh berkata dan berteriak, “Aku memegang perkataanku. Aku akan membunuhmu. Jangan berpikir semuanya berakhir karena ini hanya baru permulaan!”
Hye-sung pun melanjutkan kesaksiannya, dia membaca sumpah di persidangan, bahwa dia mengatakan kebenaran.
Soo-ha terus menatap Hye-sung.
Flashback end..
Soo-ha menulis dibukunya, “Hari ini, aku melihat lagi seseorang yang mirip denganmu. Dimana kamua sekarang..?”
Flashback..
Soo-ha menepuk pundak Hye-sung yang menangis diluar. Soo-ha mengambil batu dan menulis di jalan, “Terima kasih.”
Hye-sung menghapus tulisan itu dengan kakinya, “Jangan berterimakasih. Aku menyesal sudah datang kesini.”
Hye-sung pergi, Soo-ha mengikutinya. “Jangan ikuti aku!” Hye-sung marah sambil menangis. Tapi Soo-ha terus mengikutinya.
Hye-sun berlari dan terjatuh, buku-buku di tasnya pada jatuh. Hye-sung memegang dn mengguncang pundak Soo-ha, “Ini karenamu. Semua ini karenamu! Jangan mengikutiku karena aku tidak ingin melihatmu. Hye-sung terduduk dan tangisannya semakin kencang. Soo-ha bisa mendengar suara hatinya, “Mengapa aku datang? Bagaimana jika orang itu bena-benar akan membunuhku, apa yang harus kulakukan? Dia bilang akan mendapatkan ku setelah keluar dari penjara. Bagaimana aku bisa hidup sekarang! Aku harus melupakanmu.”
Soo-ha merangkul dan memeluk Hye-sung.
 Jika aku bertemu lagi dengan, aku benar-benar…” belum selesai Hye-sung berkata dalam hati, Soo-ha memotongnya dengan berkata, “Aku akan melindungimu.”
Hye-sung tersenyum..
Flashback end…
~~~
Soo-ha menulis dibukunya, “Aku akan melindungimu. Aku..akan melindungimu.”
Soo-ha berlatih menendang target. Bukunya terbuka oleh angin. Tulisannya hampir semuanya sama, bahwa dia melihat seseorang yang mirip dengan Hye-sung, lagi dan lagi. Diperlihatkan pula Soo-ha yang berlari mengejar orang yang dianggap Hye-sung sampai berkali-kali tapi selalu orang yang salah atau kehilangan jejak.
Suara Soo-ha, “Aku merindukanmu.”
Bersambung..
Komentar:
Soo-ha benar-benar memegang janjinya, dia ingin menjaga Hye-sung. Sepertinya  itu sejak dia melihat Hye-sung menangis dan mendengar suara hatinya yang ketakutan. Mungkin ini adalah ungkapan terimakasihnya untuk Hye-sung.
Tapi, alasan di balik pembunuhan ayah Soo-ha masih belum dijelaskan. Aku penasaran, apa yang dimaksud si pembunuh, ayah Soo-ha dibunuh karena dia banyak bicara. Apa ayah Soo-ha juga seorang pengacara?

Sinopsis I HEAR YOUR VOICE Episode 1 - 1


~~~



Suatu pagi di sekolah SMA (belum tau nama sekolahnya), beberapa murid sibuk menyapu, ngepel, ngeberesin ruangan kelas. Tampak Park Soo-ha berjalan menuju kelasnya.
Ada yang liat, dan ternyata di salah satu kelas mereka bukan bersih-bersih, ngebasahin lantai, ngasih lem ke gagang pelan, mereka mau ngerjain salah satu temannya. Siapakah itu? Apakah Soo-ha?
Seong-bin berlari menuju kelas, “Hey, hey! Cepetan siap-siap!”. Anak-anak dikelas pun bersiap, berdiri rapi, Seong-bin dan Joon-gi pura-pura pelukan sambil mau foto pake hp gt.
“Dia datang.”
Dia yang di!maksud adalah Ssang-ko si murid cewe yang berjalan didepan Soo-ha, habis buang sampah.
“Hey, Ssang-ko. Ambil pelan tuh, trus bersihin lantai sebelah sama.”
Datanglah Soo-ha, hmmm, berusaha mendengar suara hatinya Seong-bin.
anak-anak udah bener belum ya naro lemnya. Aiishh, harusnya bener..” suara hati Soeng-bin.
aiii, dia bakalan jatoh dulu, pasti seru liatnya. Mungkin harusnya tadi naro minyaknya lebih banyak..” suara hati Joon-Gi
Soo-ha mendesah denger suara temen-temennya yang mau ngerjain Ssang-ko.
SSang-ko meletekan temapt sampah yang dipegangnya dan beranjak akan mengambil pelan, tapi ditahan sama Soo-haa: “Biar aku aja yang ngerjain, kamu lap kaca jendela aja.”
Anak-anak yang lain panik, berusaha mencegah, dan yap, Soo-ha megang gagang pel yang udah dikasih lem. (padahal Soo-ha emg udah tau tuh..)
Soo-ha: “Kenapa? Aish, apa ini? Lem? Siapa yang ngasih lem disini?”
Soo-ha berusaha melepaskan tangannya, daaannn, dia terjatuh nginjek minyak dilantai.
Joon-gi marah, karena jebakannya gak nyampe ke target, dia mau ngehajr Soo-ha, Soo-ha ngelawan tapi pura-puranya mau ngelepasin lem ditangannya. Jadi kayak mukul gak sengaja gitu. Dan dimenangkan oleh Soo-ha.
~~~
Joon-gi nelpon seseorang di toilet.
“Siapa yang dipukul? Aku tuh cuma kepeleset. Gimana bisa Soo-ha yang menang? Gak ada yang menang. Aku mengalah, aku cinta perdamaian.” Joon-gi menutup telponnya dengan kesal.
“Pembohong!” Soo-ha masuk ke toilet menghampiri dan mengejutkan Joon-gi “aku memukul kamu pelan-pelan, kamu kesakitannya dibuat-buat.”
Joon-gi terlihat ketakutan, pipisnya jadi dikit-dikit keluarnya. Soo-ha bilang gak usah takut, kalo mau pipis mah pipis aja. Langsung aja pipisnya jadi banyak. (hehehe, maap ya rada jorok gak di sensor, lucu abisnya..)
Joon-gi diem aja, tapi kayaknya ngomong di hatinya, yang pastinya kedengeran sama Soo-ha.
“Kamu pasti aneh ya kenapa aku bisa menang?” Tanya Soo-ha.
Joon-gi noleh, dengan muka bertanya kenapa dia tahu apa yang ada dipikiranku..? dan dia pun ngomong dalam hati, “anak ini kayak hantu..”
Soo-ha tersenyum dan bertanya, “haruskah aku mengajarimu?” yang langsung dijawab tidak sama Joon-gi.
Sambil memegang bahu Joon-gi dan menatap matanya, Soo-ha bilang, “Dengar. Melihat mata orang lain, aku bisa tahu maksud orang itu. Pemikiran mereka, dimana akan memukul, dan bahkan kemana mereka akan lari.”
“Benarkah?” Tanya Joon-gi terkejut.
Soo-ha tertawa,”tentu saja itu bohong! Kamu percaya? Hey, bagaimana mungkin itu jadi trik rahasianya. Kamu cuma kepeleset….”
“iya bener tuh, cuma kepeleset! Bersyukurlah..” Joon-gi tertawa merasa menang. Tapi kemudian suara hatinya berkata, “lemah banget sih.. aku mengalah karena kasian sama kamu..
Soo-ha menatapnya.
~~~
 
Soo-ha jalan keluar, colokin headset ke hp, ngeliat gantungan hp, trus terdengar nyanyian anak kecil, dan flashback…

Soo-ha kecil bernyanyi mengikuti nyanyian di radio sambil ngeliat brosur. Dia sedang berada dlam mobil bersama ayahnya. Ayah bertanya apakah ada kupon gratis lagi. Soo-ha bilang ada kupon pizza salad dan Aquaquest 40% untuk akhir pekan. Aquaquest itu akurium terbaik di negara kita, ayah harus pergi kesana, kata Soo-ha menjelaskan ke ayah. Ayah bilang, “aquarium membosankan, ayah udah sering kesana.”
“aku belum pernah kesana, belum pernah sekalipun sejak aku lahir.. karena itu, ayo kita kesana minggu depan.. yah?” Soo-ha merajuk.
“Baiklah, tapi apakah ada kupon dihari biasa? Ayah tidak bisa pergi kalau akhir pekan.”
“kalo hari biasa cuma 30% diskonnya.”
“Yah,, sayang sekali..” kata ayah sambil melihat ke Soo-ha.
Sementara itu Soo-ha melihat ada truk besar yang melaju ke arah mereka.
Dan terjadilah tabrakan. Truk menabrak mobil tepat disisi ayah yang sedang menyetir. Terus mendorong mobil mereka sampai jauh. Ayah dan Soo-ha berlumuran darah. Terlihat gantungan di mobil yang sama dengan yang dipegang Soo-ha sekarang.
“Soo-ha…So-ha… Bangunlah..” Ayah memanggil Soo-ha dengan lemah.
Soo-ha: “Ayah…”
Ayah: “Apakah kamu terluka? Apakah ada yang terasa sakit?”
Soo-ha: “Kepalaku… sakit..”
Ayah: “Tahan sebentar.. tetaplah sadar..”
Seorang pria turun dari truk yang menabrak, menghampiri mobil, dan mengetuk kaca depan. Ayah merespon, si pria itu terkejut, ternyata mereka masih hidup. Ayah meminta tolong untuk mengeluarkan mereka, anak saya terluka.
“Bajingan ini masih hidup! Aku harus membunuhnya sekali lagi. Jadi banyak yang harus kulakukan..” si pria berkata kesal dalam hati.
Soo-ha mendengar suara hati si pria itu. Dia terkejut.
Ayah terus meminta tolong pada pria itu untuk membukakan pintu. Si pria berlari kembali ke truk untuk mengambil sesuatu.
Dengan suara yang lemah Soo-ha menyuruh ayahnya untuk lari. “Orang itu….kepada kita….” Belum selesai Soo-ha berkata, si pria kembali dengan membawa tongkat besi, naik ke atas kap mobil, memecahkan kaca depan, dan memukuli ayah dengan tongkat besi itu sampai meninggal.
Soo-ha tak berdaya, hanya bisa teriak memanggil ayahnya. Si pria turun, membuka pintu samping dimana ada Soo-ha dan akan memukul Soo-ha…
Flashback end..
~~~
Suara Soo-ha: “Sejak hari itu, ada dua macam suara di hidupku. Satu suara yang orang lain bisa juga mendengar, dan satu lagi hanya aku yang bisa mendengar.”
Kemudian Soo-ha melihat kesekeliling dan mendengarkan suara hati ornag-orang.
Ada satu anak laki-laki gendut yang naik tangga sambil liat Soo-ha dan berkata dalam hati, “Soo-ha, berandal itu, memukuli Joon-gi. Emang bener?”
Ada lagi, pak guru kayaknya, “Dimana aku nyimpen hp ku ya? Aish… dimana sih?”
Trus ada siswi yang dipapah temannya, sepertinya kesakitan, “Ugh, gak nyaman banget. Dan ini baru hari kedua…”
Suara Soo-ha lagi: “Hidupku, dibandingkan dengan hidup orang lain.. lebih berisik.” Lalu Soo-ha memasang headset nya.

Episode 1 

Soo-ha duduk ditangga taman, Seong-bin nyamperin, ngasih pembersih tangan buat bersihin lem, trus tanya kenapa Soo-ha nolongin Ssang-ko. Soo-bilang dia juga gak tau.
“Bohong, pasti kamu tau. Kamu suka Ssang-ko ya?” tanya Seong-bin lagi.
Soo-ha: “tidak.”
Seong-bin: “Waktu valentine day, kamu bilang kamu udah punya seseorang yang kamu suka. Makanya kamu gak mau nerima coklat dari siapapun.”
Soo-ha: “Iya. Memang ada seseorang yang aku suka. Tapi bukan Ssang-ko.”
“Siapa?” “Apakah itu aku?” tanya Seong-bin penuh harap.
“Kamu tidak berpikir kalo itu kamu kan?” tanya Soo-ha balik.
Seong-bin menyangkal, “Hey! Apa kamu gila! Aku tidak berpikir kalo itu aku! Siapa wanita itu?” “Apakah dia cinta pertamanya?”
“Cinta pertamaku.” Ujar Soo-ha santai.
“Siapa cinta pertama kamu?” selidik Seong-bin. “Apakah dia cantik? Baik?”
“Dia sangat cantik.” Kata Soo-ha sambil tersenyum.
Samar-samar terlihat seorang wanita dengan pakaian rapi sedang berjalan di suatu tempat.
Seon-bin: “Jangan terperangkap oleh kecantikan seorang perempuan. Pak guru bilang itu cuma saat mereka muda aja.”
Soo-ha: “Dia tidak hanya cantik. Baik. Dia baik dan pintar. Wanita terbaik di dunia.”
Wanita yang sedang dibicarakan, Jang Hye-sung ada diruangan sidang, sedang membacakan pembelaan untuk kliennya yang berbeda-beda dengan alasan yang sama. Sampai-sampai para hakim dan pengacara yang lain hapal sama kata-katanya. Gedeg-gedeg kepala mereka, haha..
~~~
 
Hye-sung keluar kantor persidangan dan menerima telpon ibunya. Ibu bertanya apakah Hye-sung sudah melakukan persiapan untuk wawancara untuk menadi pembela umum negara besok. Hye-sung bilang banyak yang melamar pekerjaan itu, apa yang harus aku siapkan. Ibu memarahi Hye-sung dengan umurnya yang sekarang dia harus bisa menjaga pekerjaannya. Dan menyuruh Hye-sung membayar uang yang dia pinjam ke ibu.
“Aku menjadi seorang ibu tidak untuk menyokong keuangan anaknya yang seorang pengacara.” Kata ibu.
Hye-sung kesal, dan ibu dan anak itu membahas tentang pengahasilan.
Hye-sung kembali ke yang membagikan note gratis, dia meminta lagi untuk yang ke 3 kalinya, membuat kesal yang membaginya.
~~~
 
Cha Kwan-woo berjalan menuju gedung pemerintah, semacam gedung kejaksaan gitu kayaknya. Dia akan melakukan wawancara pembela umum. Tapi kayaknya salah masuk ruangan deh, dia masuk di 529 barat, harusnya 529 timur. Pas dia masuk, cuma ada Hye-sung disana lagi main game di hp. Kwan-woo mencoba ngobrol sama Hye-sung tapi Hye-sung nya cuek bebek. Tapi Kwan-woo tetep aja ngajakin ngobri\ol, dia bilang jadi pengacara itu impiannya, awalnya dia polisi trus berhenti buat jadi pengacara, pembela umum khususnya.
Ada seorang laki-laki yang masuk ke ruangan itu, dan menanyakan mereka sedang apa disana. Kwan-woo bilang lagi nunggu mau wawancara. Tahulah mereka kalau mereka salah ruangan. Hye-sung lari duluan, disusul Kwan-woo yang pengen bareng. Kwan-woo ini agak-agak culun gayanya. Pake kacamata, poni lempar, celana ngatung, hehe..
Hye-sung yang nyampe duluan, begitu buka pintu langsung nganga, disusul Kan-woo yang nganga juga. Kaget, ternyata yang ikutan wawancara banyak bangeeettt, dan itu baru hari pertama.
Hye-sung dengan galak dan masih syok langsung minta contekan kisi-kisi pertnyaan yang Kwan-woo punya (pas tadi di ruangan yang salah Kwan-woo nawarin tapi ditolak Hye-sung).
~~~
 
Giliran Kwan-woo di wawancara. Pak hakim, Kim Gong-suk, bertanya:
“Dengan IPk yang bagus, anda pasti mendapat banyak tawaran. Mengapa anda memilih menjadi pembela umum?”
Kwan-woo: “Saya ingin menjadi seorang pengacara bukan untuk memperoleh uang. Saya akan menjadi pejuang.”
Sementara Hye-sung menguping orang lain yang sedang wawancara. Mencocokan jawaban mereka dengan contekanya. Hampir semua alasan udah dipake sama orang lain. Hye-sung kesal.
~~~
Hye-sung diruang wawancara. Ditanya dengan pertanyaan yang sama. Contekannya udah kecoret semua. Dia ngeluarin note yang tadi ngambil banyak itu, dia bagiin ke pewawancara. Hakin bertanya apa itu.
“Itu adalah iklan promosi dari klinik dokter gigi. Saya mengambil lebih dari satu untuk menghemat uang.”
Hakim Kim: “Apakah anda berusaha mendapatkan belas kasihan kami?”
Hye-sung: “Saya harus memberitahukan alasan sesungguhnya. Saya datang kesini karena uang. Saya tidak punya kemampuan untuk masuk ke kantor pengacara.”
Mian, aku gak ngerti omongannya Hye-sung, pokonya intiny dia mau jadi pembela umum karena katanya bisa dapet uang banyak. Trus dia ditolak mentah-mentah, tpi ada satu pernyataan Hye-sung yang bikin Hakim Kim penasaran. Hakim Kim minta diceritain, Hye-sung minta imbalan dia harus diterima. Jika ceritanya menarik, mungkin bisa diterima, kata Hakim Kim. 
Hye-sung pun bercerita:
“Sepuluh tahun yang lalu, saya punya seorang teman. Seorang anak perempuan dari majikan ibu saya. Dia cantik dan pintar. Tapi ada yang mengganggu saya. Saya melihat dia mencontek saat ujian, yang seharusnya saya tidak lihat. Seorang anak, yang selalu berada di peringkat 10, tiba-tiba menjadi peringkat pertama. Ibunya mengadakan pesta perayaan, saya dan ibu saya memasak.”
Flashback..
Hye-sung membawa makanan ke luar rumah, dimana anak majikan ibunya, Seo Do-yeon, sedang menyalakan kembang api sama teman-temannya. Salah satu teman Do-yeon meminta Hye-sung untuk bergabung. Hye-sung memegng kembang apinya, belum dinyalain. Teman Do-yeon menyalakan kembang api, tapi tidak keluar, dia goyang-goyang dan kena ke matanya Do-yeon. Semua orang panic, hanya Hye-sung yang diam mematung.
Suara Hye-sung dewasa: “Saat itu, saya terkejut dan merasa khawatir. Tapi, dalam hati saya yang  terdalam, saya pikir saya tidak terlalu peduli. Saya sangat membencinya.”
Do-yeon berada di RS, terbaring dengan mata tertutup perban. Dokter bilang mata kirinya mungkin akan mengalami kebutaan. Ayah dan ibunya terlihat sedih.
Hye-sung dan ibunya menyiapkan makanan untuk dibawa ke RS, ibu menyuruh Hye-sung berganti pakaian dan pergi dengannya ke RS, tapi Hye-sung gak mau.
~~~
 
Di RS. Di kamar Do-yeon, ada ayah, ibu, dan dua orang teman Do-yeon. Ayah bertanya siapa yang membuat anaknya seperti ini. Mereka ketakutan.
“Saya tidak tahu. Saya kalut saat itu. saya tidak melihat siapa yang melakukannya.” Jawab salah satu temn Do-yeon. “Apakah kamu melihatnya?” dia bertanya ke temannya lagi, pelaku sebenarnya.
“Aku? Sepertinya aku melihatnya.”
Semua terkejut, siapa?
“Itu…”
Hye-sung dan ibunya masuk.
Si pelaku dengan cepat bilang bahwa “Hye-sung yang melakukannya. aku melihatnya.”
Ibu dan Hye-sung bingung, melakukan apa?
Mereka bilang Hye-sung sengaja melukai Do-yeon. “Itu bohong. Mereka sengaja menyalahkan aku untuk menutupi salah satu dari mereka yang melakukannya.” Kata Hye-sung dengan marah.
Ibu Do-yeon terlihat percaya, tapi ayahnya sepertinya tidak. Namun ternyata Do-yeon pun menuduh Hye-sung. Tentu saja Hye-sung menyangkalnya, memang buk dia pelakunya.
Ibu Hye-sung terlihat syok, dia meminta waktu untuk berbicara dengan Hye-sung diluar. Hye-sung ditarik keluar sama ibu.

Hye-sung: “Ibu. Ibu tidak percaya padaku? Benarkah? Itu benar-benar bukan aku. Aku bilang bukan!”
Ibu: “Lihat mata ibu dan katakana sejujurnya. Kamu melakukannya? Benarkah?”
Hye-sung menangis: “Tidak. Itu tidak benar.”
Ibu: “Jika memang kamu yang melakukannya. Ibu tetap akan berada dipihakmu. Jadi jangan berbohong. Walaupun itu suatu masalah, katakan sejujurnya.”
Hye-sung: “Walaupun aku buruk, aku tetap anak ibu. Anak yang tidak lebih ibu perhatikan daripada keluarga itu. ku benci Do-yeon. Tapi aku tidak akan melakukan itu. Aku tahu perilaku ku buruk, tapi aku tak sejahat itu.”
Ibu dan Hye-sung sama-sama menangis.
Ibu menenangkan Hye-sung, “Jangan menangis. Aigo, lihat hidungmu, kotor sekali.”
Hye-sung: “Ibu percaya padaku?”
Ibu:”Kamu bilang ibu harus percaya.”
Hye-sung: “Ibu percaya karena aku yang bilang dan bukan karna ibu benar-benar percaya?”
Ibu: “Aigo.. gadis ini masih saja berbicara seperti itu bahkan setelah ibu bilang ibu percaya.” Kata ibu sampil ngeplak kepalanya Hye-sung.
~~~
 
Di kamar RS. Do-yeon tanya pada ayahnya, “ayah percaya pada perkataanku kan?”
Ayah bilang ayah percaya pada kata-kata pertama mereka yang bilang kalau tidak melihat yang melakukannya. Ibu dan Hye-sung masuk, ibu bilang bukan Hye-sung yang melakukannya.
Ibu Do-yeon bilang, Ibu Hye-sung tidak boleh membela Hye-sung karena dia anaknya dan tidak akan memecahkan masalahnya.
“Tidak. Saya tidak membelanya karena dia anak saya. Tapi, anak ini tidak pernah menangis. Dia tidak menangis saat dia kehilangan ayahnya. Dan saat kakinya patah, dia tidak meneteskan airmatanya sedikit pun. Saat dia menangis, hanya ada satu alasan. Saat ada sesuatu yang tidak adil. Melihatnya menangis seperti ini, artinya dia merasa dituduh. Pelakunya bukan Hye-sung, tapi orang lain. Saya sangat yakin. Tolong percaya pada saya dan Hye-sung.”
Hye-sung terus menatap ibunya. Do-yeon kelihatan tegang, ayahnya diam saja. Tapi, ibunya, masih menuduh Hye-sung, “putriku bilang Hye-sung yang melakukannya. Dia melihat dengan kedua matanya sendiri.”
Ibu membela Hye-sung, “Saya pikir, pasti Do-yeon merasa bingung karena disana banyak teman-temannya. Anak saya benar-benar bukan pelakunya.”
Ibu Do-yeon masih menuduh Hye-sung dan menyuruh suaminya melakukan sesuatu.
Ayah Do-yeon berkata pada Hye-sung, “Hye-sung, saya tidak mendengarkan bukan karena saya percaya sama kamu. Saya menunggu.”
Hye-sung: “Menunggu apa?”
Ayah Do-yeon: “Mengakui bahwa kamu melakukannya, menyesalinya, dan meminta maaf.”
Hye-sung: “saya sudah bilang bukan saya yang melakukannya.”
Do-yeon tersenyum penuh kemenangan, ayahnya percaya sama omongannya dia.
Ayah Do-yeon: “Jika kamu mengakuinya dan meminta maaf dengan sungguh-sungguhnya. Saya akan memaafkan kamu. Demi masa depanmu dan kita akan melanjutkan hidup kita seperti biasanya. Tapi jika kamu tetap seperti ini, saya tidak akan membiarkan kamu satu sekolah dengan anak saya.”
Hye-sung: “Apa maksudnya? Apakah anda akan mengeluarkan saya?”
Ayah Do-yeon bilang mereka juga harus keluar dari rumah, kalau Hye-sung masih tidak mau mengaku. Dia melakukan ini karena sudah menjaga Hye-sung selama 10 tahun ini. Apa yang mau Hye-sung akui? Memang bukan dia pelakunya.
~~~
 
Hye-sung dikeluarkan dari sekolah. Ibu sudah mengemas barang-barang untuk pindah. Pak sopir keluarga itu memberikan uang pesangon titipan dari mereka. Hye-sung melarang ibu untuk menerimanya. “Jangan terima. Jika ibu percaya saya, jangan terima.” Tapi ibu tetap memanggilnya. Hye-sung tidak mau ikut pergi kalau ibu tidak mengembalikan uangnya.
Ibu turun di suatu tempat, dia melihat poster ayah Do-yeon, Hakim Agung sepertinya, dan ibu meremas amplop uang itu.
Hye-sung masih ditempat yang sama, di depan rumah keluarga Do-yeon sampai larut malam. Ayah Do-yeon keluar rumah, menghampiri Hye-sung.
“Untuk berapa lama kamu akan berdiri disini? Cepat susul ibumu” tanya Hakim Seo (ganti panggilnya pake nama aja ya..)
“Berapa banyak uang pesangon yang anda berikan untuk ibu saya? 100 ribu won? 1 juta won? Saya tidak tahu berapa, tapi itu kompensasi dari harga diri anda. Anda memberikannya karena anda merasa bersalah. ‘bagaimana jika bukan dia pelakunya?’ itulah mengapa anda memberikannya. Benarkan?” tanya Hye-sung sambil menatap tajam Hakim Seo.
“Dengan amplop uang itu, saya ingin menguji ibu kamu. Apakah dia percaya putrinya atau tidak. Jika dia percaya padamu, dia tidak akan menerima uang itu. bahkan ibunya pun tidak percaya pada putrinya sendiri. Bagaimana saya bisa percaya sama kamu?” jawab Hakim Seo.
Hye-sung terlihat terpukul mendengar kata-kata itu.

Lalu Hakim Seo melihat ibu Hye-sung membakar buku-bukunya (yang tadi ada posternya ternyata promosi buku) dan uang pemberian Hakim Seo tadi.
Hakim Seo menghampiri ibu  dan bertanya apa yang ia lakukan. Hye-sung pun  menghampiri ibunya.
“Refleksi bisa membuat hati terasa hangat. Saya tidak menyadarinya saat saya membaca buku anda, tetapi sekarang saya membakarnya, saya bisa merasakan kehangatannya.” Jawab ibu.
Hakim Seo bertanya lagi apa yang ibu lakukan.
“Anda tidak mendengarkan kata-kata saya, jadi saya mencoba menunjukkannya pada anda. Putri saya tidak melakukan apapun. Sangat tidak asil mengeluarkannya dari sekolah. Anak saya tidak bersalah dan anda seharusnya mengetahuinya. Dan itu alasan saya melakukan ini.”
Hye-sung terharu dengan pembelaan ibunya, ibu percaya sepenuhnya padanya.
“Lihatlah, sepertinya anda sudah menangkap maksud saya. Hanya itu yang saya butuhkan.” Tambah ibu.

Ibu kemudian mengajak Hye-sung pergi. Pas belok, ibu terduduk, liat contekan ditangannya, dia lupa ada yang ketinggalan gak di sebut, ‘anda tidak menyelamatkan orang dengan hukum, anda membuat mereka menangis’.
Hye-sung senang ibu benar-benar percaya sama dia. Tentu saja ibu percaya..

Still Picture I Hear Your Voice

I Hear Your Voice (2013)

Title: 너의 목소리가 들려 / Neoui
Moksoriga Deulrye
Also known as: I Can Hear Your
Voice
Genre: Romance, fantasy, comedy, mystery
Writter: Park Hye-ryun
Directed: Jo Soo-won
Episodes: 16
Broadcast network: SBS
Broadcast period: 2013-Jun-05 to
2013-Aug-??
Air time: Wednesday & Thursday 21.55 KST
Cast
Lee Bo-young as Jang Hye-sung
Kim So-hyun as young Hye-sung
Lee Jong-suk as Park Soo-ha
Yoon Sang-hyun as Cha Gwan-woo
Lee Da-hee as Seo Do-yeon
Yoon Joo-sang
Kim Kwang-gyu as Kim Gong-sook
Choi Sung-joon as Choi Yoo-chang
Jung Dong-hwan
Kim Hae-sook as Jang Hye-sung's mother
Jung Woong-in as Min Joon-gook
Kim Ga-eun as Sung-bin
Kim Byung-wook
Sumber: wikipedia
Storyline dan cast detailnya bisa diliat di clover blossom - nya hazuki.. Klik-->
Storyline dan cast detail

Wednesday, November 13, 2013

[MV] Kim Jong Kook(김종국) _ How come You don't know?(모르나요) (Good Doctor(굿닥...

http://www.youtube.com/v/4_8wiMEJZqs?autohide=1&version=3&showinfo=1&attribution_tag=Q_TGudM3mieFa1E-cX8OWw&autohide=1&feature=share&autoplay=1

[MV] Kim Jong Kook(김종국) _ How come You don't know?(모르나요) (Good Doctor(굿닥...

http://www.youtube.com/v/4_8wiMEJZqs?autohide=1&version=3&showinfo=1&attribution_tag=Q_TGudM3mieFa1E-cX8OWw&autohide=1&feature=share&autoplay=1

Lirik lagu Tangga - Utuh


Semakin ku ingkari, semakin ku mengerti
Hidup ini tak lengkap tanpamu
Aku mengaku bisa tapi hati tak bisa

Sesungguhnya ku berpura-pura
Relakan kau pilih cinta yang kau mau
Sesungguhnya ku tak pernah rela
Karena ku yang bisa membuat hatimu utuh

Sakit yang ku rasa bukan karena dia
Tapi karena kau pilih cinta yang salah
Aku mengaku bisa tapi hati tak bisa

Sesungguhnya ku berpura-pura
Relakan kau pilih cinta yang kau mau
Sesungguhnya ku tak pernah rela
Karena ku yang bisa membuat hatimu utuh

Ku akui sesungguhnya aku berpura-pura
Relakan kau pilih cinta yang kau mau
Dan aku tak bisa

Tak bisa ku biarkan kau tersiksa
Disisihkan cinta bertahta
Ku katakan padamu tempatmu di hati
Cintaku membuatmu utuh

Sesungguhnya ku tak pernah rela
Karena ku yang bisa, karena hanya ku yang bisa
Membuat hatimu utuh

Lirik Lagu Last Child feat. Giselle - Seluruh Nafas


lihatlah luka ini yang sakitnya abadi
yang terbalut hangatnya bekas pelukmu
aku tak akan lupa, tak akan pernah bisa
tentang apa yang harus memisahkan kita
*courtesy of lyricsmp3.blogspot.com
saat ku tertatih tanpa kau di sini
kau tetap ku nanti demi keyakinan ini

jika memang dirimulah tulang rusukku
kau akan kembali pada tubuh ini
ku akan tua dan mati dalam pelukmu
untukmu seluruh nafas ini

kita telah lewati rasa yang telah mati
bukan hal baru bila kau tinggalkan aku
tanpa kita mencari jalan untuk kembali
takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku

di saatku tertatih (saat ku tertatih)
tanpa kau di sini (tanpa kau di sini)
kau tetap ku nanti demi keyakinan ini

jika memang kau terlahir hanya untukku
bawalah hatiku dan lekas kembali
ku nikmati rindu yang datang membunuhku
untukmu seluruh nafas ini

dan ini yang terakhir aku menyakitimu
ini yang terakhir aku meninggalkanmu
takkan ku sia-siakan hidupmu lagi

ini yang terakhir dan ini yang terakhir
takkan ku sia-siakan hidupmu lagi

jika memang dirimulah tulang rusukku (terlahir untukku)
kau akan kembali pada tubuh ini (bawa hatiku kembali)
ku akan tua dan mati dalam pelukmu
untukmu seluruh nafas ini

jika memang kau terlahir hanya untukku
bawalah hatiku dan lekas kembali
ku nikmati rindu yang datang membunuhku
untukmu seluruh nafas ini, untukmu seluruh nafas ini
untukmu seluruh nafas ini

Lirik Lagu Pahat Hati - SMASH


Lirik Lagu Pahat Hati - SMASH

saat ku buka mata (terang menerpa)
ku bangkitkan tubuhku (cerah menyapa)
lalu ku hirup nafas (aroma cinta)
tak percaya rasa itu hadir lagi

saat diriku sempat menyerah dan tak inginkan cinta lagi
hingga kau datang memahat hatiku dengan cinta

aku gak sedih lagi, deg-degan lagi
ser-seran lagi tiap bersama
kamu hidupkan lagi, getarkan lagi
tautkan lagi cinta di antara

kita berdua bernyanyi, kita berdua menari
kita berdua tersenyum, kita berdua bersama
kita berdua bergurau, kita berdua bercanda
kita berdua tertawa, kita berdua bahagia

saat melangkah pasti (lurus kedepan)
dan ku berlari kecil (mengejar asa)
lalu tersenyum simpul (aku kembali)
tak percaya rasa itu hadir lagi

saat diriku sempat menyerah dan tak inginkan cinta lagi
hingga kau datang memahat hatiku dengan cinta

aku gak sedih lagi, deg-degan lagi
ser-seran lagi tiap bersama
kamu hidupkan lagi, getarkan lagi
tautkan lagi cinta di antara

kita berdua bernyanyi, kita berdua menari
kita berdua tersenyum, kita berdua bersama
kita berdua bergurau, kita berdua bercanda
kita berdua tertawa, kita berdua bahagia

yeah yeah you come to me and set my world
i was thinking about you and we’re so in love
i’m so glad and thanks to lord
cause He gives me hope that there is love
you’re my soul, you’re my world, and you make me soft
(bersamamu adalah anugerah Tuhan)
girl you are (my lover girl)
yeah because you’re my baby girl

aku gak sedih lagi, deg-degan lagi

aku gak sedih lagi, deg-degan lagi
ser-seran lagi tiap bersama
kamu hidupkan lagi, getarkan lagi
tautkan lagi cinta di antara

aku gak sedih lagi, deg-degan lagi
ser-seran lagi tiap bersama
kamu hidupkan lagi, getarkan lagi
tautkan lagi cinta di antara

kita berdua bernyanyi (kita berdua), kita berdua menari (menari)
kita berdua tersenyum, kita berdua bersama (kita berdua bersama)
kita berdua bergurau, kita berdua bercanda

Lirik Lagu Selalu Tentang Kamu - SMASH


Lirik Lagu Selalu Tentang Kamu SMASH


Akhirnya ku temukan yang selama ini ku cari cari
Kamulah yang ku mau, menemani hariku selalu selalu
Hilang semua sedih hati, denganmu ku rasakan cinta cinta

Kamulah bunga dari tidurku
Mimpi-mimpi indahku, selalu tentang kamu (always be you)
Kamulah bintang-bintang hatiku
Akan ku jaga selalu, selalu tentang kamu

Tak ku sangka semua terjadi dengan nyata
Ku sambut terang karena kau telah datang, sayang
Tenanglah dirimu takkan ku sia-siakan
I’ve been waiting so long for you to hear this love song

Kamulah yang ku mau, menemani hariku selalu selalu
Hilang semua sedih hati, denganmu ku rasakan cinta cinta
Girl, you are mine, in my heart, in my soul (you’re my soul)
Heaven knows i love you so (i love you so)

Kamulah bunga dari tidurku
Mimpi-mimpi indahku, selalu tentang kamu (always be you)
Kamulah bintang-bintang hatiku
Akan ku jaga selalu, selalu tentang kamu

Apapun yang akan terjadi ku kan selalu jadi milikmu
So this is my heart, this is my soul, I will be here forever

Kamulah bunga dari tidurku (dari tidurku)
Mimpi-mimpi indahku (mimpi indah, mimpi indah)
Selalu tentang kamu (always be you)
Kamulah (kamulah kamulah)
Bintang-bintang hatiku (bintang bintang di hatiku)
Akan ku jaga selalu, selalu tentang kamu (selalu bintang kamu)

All that i have for you, all that i need is you, is you

Lirik Lagu Rindu Ini - SMASH


Lirik Lagu Dunia Cinta - SMASH


Lirik Lagu Dunia Cinta SMASH


Teringat aku saat pertama oh kita bertemu
Malu-malu kau bertanya padaku alamat rumah temanmu
Sejak itu pesan pertama ku kirimkan untukmu
Manis tutur rayuan kata cinta daku tujukan padamu

Ku tak yakin ini kan terjadi
Hari berlalu indah bagai mimpi

Bahagia ku rasakan bila berdua dengan dirimu, sayang
Dunia seakan milik kita berdua, oh bahagia, oh bahagia

Teringat aku saat pertama bertemu
Kau bertanya padaku terlihat kau malu-malu
Sejak itu pesan pertama ku kirimkan untukmu
Manis tutur rayuan kata cinta daku tujukan padamu

Ku tak yakin ini kan terjadi (terjadi)
Hari berlalu indah bagai mimpi

Bahagia ku rasakan bila berdua dengan dirimu, sayang
Dunia seakan milik kita berdua, oh bahagia, oh bahagia

Yeah, it’s me Reza!
Ketika kita berdua ku tak pernah lupa
Untuk merasakan namanya jatuh cinta
Come on, everybody say, l-o-v-e, dunia cinta!

Ku tak yakin ini kan terjadi (terjadi, terjadi)
Hari berlalu indah bagai mimpi (bagai mimpi)

Bahagia ku rasakan bila berdua dengan dirimu, sayang
Dunia seakan milik kita berdua, ku bahagia

Bahagia ku rasakan bila berdua dengan dirimu, sayang
Dunia seakan milik kita berdua (berdua), oh bahagia, bahagia oh bahagia

Teringat aku saat pertama bertemu
Kau bertanya padaku terlihat kau malu-mal

Lirik Lagu Agnes Monica - Muda (Le O Le O)


Le o le o le o heeei, le o le o le o heeei
Le o le o le o heeei, le o le o le o heeei
Ku berlari pakai hati, tak berhenti sampai mati
Le o le o le o heeei, le o le o le o heeei, le o le o le o heeei

Aku dengar ada yang bicara
Papa mamaku punya cita-cita
Dia baru berusia lima
Tapi semangatnya sungguh sempurna

Never in your life, let them talk to you like you can not
Yes, you’re young but you’re right
Walk your miles, do your part with a smile
’cause you’re young, you’re young, you’re young

Hidupku itu adalah aku
Bukan kamu dan ragumu, jangan sama-samakanku
Hidupmu itu adalah kamu
Bukan kata tidak mampu, tak peduli usiamu

Aku muda (aku muda) aku bisa (aku bisa)

Tak perlu ragukan yang kau lihat
Orang ikuti ku punya jejak
Kamu yang nakal bikin ku bosan
Mulut setan bicara tak karuan

Never in your life, let them talk to you like you can not
Yes, you’re young but you’re right
Walk your miles, do your part with a smile
’cause you’re young, you’re young, you’re young

Hidupku itu adalah aku
Bukan kamu dan ragumu, jangan sama-samakanku
Hidupmu itu adalah kamu
Bukan kata tidak mampu, tak peduli usiamu

Hidupku itu adalah aku
Bukan kamu dan ragumu, jangan sama-samakanku
Biar ku berlari pakai hati
Tak berhenti sampai mati, aku muda aku bisa

Le o le o le o heeei, le o le o le o heeei
Ku berlari pakai hati, tak berhenti sampai mati
Le o le o le o heeei, le o le o le o heeei
Ku berlari pakai hati, tak berhenti sampai mati

Hidupku itu adalah aku
Bukan kamu dan ragumu, jangan sama-samakanku
Hidupmu itu adalah kamu
Bukan kata tidak mampu, tak peduli usiamu

Hidupku itu adalah aku
Bukan kamu dan ragumu, jangan sama-samakanku
Biar ku berlari pakai hati
Tak berhenti sampai mati, aku muda aku bisa

Le o le o le o heeei
Ku berlari pakai hati, tak berhenti sampai mati

Lirik Lagu Agnes Monica - Muda (Le O Le O)


Le o le o le o heeei, le o le o le o heeei
Le o le o le o heeei, le o le o le o heeei
Ku berlari pakai hati, tak berhenti sampai mati
Le o le o le o heeei, le o le o le o heeei, le o le o le o heeei

Aku dengar ada yang bicara
Papa mamaku punya cita-cita
Dia baru berusia lima
Tapi semangatnya sungguh sempurna

Never in your life, let them talk to you like you can not
Yes, you’re young but you’re right
Walk your miles, do your part with a smile
’cause you’re young, you’re young, you’re young

Hidupku itu adalah aku
Bukan kamu dan ragumu, jangan sama-samakanku
Hidupmu itu adalah kamu
Bukan kata tidak mampu, tak peduli usiamu

Aku muda (aku muda) aku bisa (aku bisa)

Tak perlu ragukan yang kau lihat
Orang ikuti ku punya jejak
Kamu yang nakal bikin ku bosan
Mulut setan bicara tak karuan

Never in your life, let them talk to you like you can not
Yes, you’re young but you’re right
Walk your miles, do your part with a smile
’cause you’re young, you’re young, you’re young

Hidupku itu adalah aku
Bukan kamu dan ragumu, jangan sama-samakanku
Hidupmu itu adalah kamu
Bukan kata tidak mampu, tak peduli usiamu

Hidupku itu adalah aku
Bukan kamu dan ragumu, jangan sama-samakanku
Biar ku berlari pakai hati
Tak berhenti sampai mati, aku muda aku bisa

Le o le o le o heeei, le o le o le o heeei
Ku berlari pakai hati, tak berhenti sampai mati
Le o le o le o heeei, le o le o le o heeei
Ku berlari pakai hati, tak berhenti sampai mati

Hidupku itu adalah aku
Bukan kamu dan ragumu, jangan sama-samakanku
Hidupmu itu adalah kamu
Bukan kata tidak mampu, tak peduli usiamu

Hidupku itu adalah aku
Bukan kamu dan ragumu, jangan sama-samakanku
Biar ku berlari pakai hati
Tak berhenti sampai mati, aku muda aku bisa

Le o le o le o heeei
Ku berlari pakai hati, tak berhenti sampai mati

Lirik Lagu Cinta Sejati BCL (Ost. Habibie & Ainun)


Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku

Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah

Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Saat aku tak lagi di sisimu

Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan

Pasti tahu cinta kita sejati
Lembah yang berwarna
Membentuk melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesunyian cinta

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
 

Sample text


Sample Text

Tasya azira